Minggu, 22 Mei 2011

Peran Gender Tradisional


Mengapa peran gender tradisional masih kuat pada abad 21?
Seiring semakin tuanya usia dunia ini, cerita panjang mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan dimana laki-laki lebih superior dibanding perempuan sudah terbentuk. Contohnya pada tradisi Judeo-Christian dimana laki-laki didisain sebagai pemilik dari keluarganya (Wolf, 1992 dalam Baron&Byrne 1979). Selain itu pada konteks nonreligi, terdapat buku anak-anak yang menghadirkan tokoh laki-laki dan perempuan dari berbagai umur sesuai dengan stereotip gender tradisionalnya, contohnya pada tayangan sesame street.
 Sementara pada masa sekarang, pembedaan gender terus berlanjut pada permainan-permainan komputer dan software lainnya, seperti Barbie fashion design untuk anak perempuan. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan bertahannya stereotip gender dan superioritas laki-laki dan mempengaruhi tingkah laku serta harapan pada laki-laki dan perempuan.
Indikasi bahwa stereotip gender mulai luntur adalah penelitian bahwa mahasiswa sekarang ini sudah sering tidak mempedulikan stereotipgender dan tidak memperhatikan perbedaan gender (Swim, 1994 dalam Baron&Byrne 1979). Contohnya pada tahun 1931 mahasiswa Amerika lebih asertif dalam hal berkencan dibanding perempuan, sedangkan pada tahun 2001 sudah tidak ada perbedaan. Contoh lainnya adalah pada tahun 1970 sudah mulai muncul buku-buku yang tidak lagi membedakan gender, seperti buku ‘He Bear, She Bear (1974) yang mengandung pesan : “There’s nothing that we cannot try. We can do all this things you see, wether we are he or she”.
Teori Gender Expectations
Gender expectations atau pengharapan akan jender membawa kita untuk lebih memilih laki-laki untuk posisi otoritas dan meletakkan wanita pada peran sub-ordinat atau hanya sebagai pelengkap. Di dalam keluarga, kelompok dan organisasi sosial, pria mempunyai status yang lebih tinggi daripada wanita (Betz & Fitzgerald, 1987; England, 1979; Kanter, 1977; Lovdal, 1989; Needleman & Nelson, 1988; Scanzoni, 1982 dalam Beal & Sternberg, 1999). Peran status tinggi memerlukan dominansi, kecerdasan, rasionalitas, objektifitas, inisiatif, kepemimpinan, dan penetapan keputusan (Secord, 1982 dalam Beal & Sternberg, 1999). Perlu dicatat bahwa karakteristik tersebut mirip dengan stereotipe maskulin, karena hanya laki-laki yang terlihat memiliki peran autoritas , mereka butuh memperlihatkan tingkah laku mereka agar dikarakterkan maskulin (Beal & Sternberg, 1999).
Sebaliknya, peran pelengkap memberikan kesempatan yang kecil untuk memiliki tingkah laku tersebut di atas. Mereka dianjurkan untuk bersifat tergantung (superior mengatur penghasilan dan pekerjaan mereka, dan pelengkap tersebut harus menunggu perintah pihak superior), menyesuaikan dan memiliki rasa hormat terhadap keputusan pihak superior, sensitif terhadap kebutuhan pihak superior, serta merawat pihak superior tersebut (Secord, 1982; Snodgrass, 1985, 1992 dalam Beal et. al., 1999). Pada zaman dahulu, semua wanita dilihat dalam posisi sub-ordinat atau pelengkap. Lalu, tingkah laku yang dibutuhkan untuk peran tersebut dikarakteristikan sebagai feminin (cf. Rothbart, Fulero, Jensen, Howard, & Birrell, 1978; both Unger, 1976,1978, and Henley, 1977 dalam Beal et. al., 1999). Sebagai akibat dari stereotipe-nya dan peran tingkah laku mereka, wanita lalu dilihat secara alami hanya cocok untuk posisi sub-ordinat. Dan seperti juga wanita, karena hanya laki-laki yang diharapkan untuk peran status yang tinggi, sikap mereka disebut sebagai maskulin, dan hanya laki-laki yang diharapkan untuk cocok dalam posisi otoritas.
Pengukuran mengenai orientasi nilai menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai berdasarkan perbedaan kohort. Misalnya Laki-laki dan perempuan yang berusia sekitar 20 sampai 30 tahun memiliki orientasi yang kurang pada keluarga dan lebih berorientasi pada karir dan menjadi lebih berorientasi pada keluarga di usia 30 sampai 40. Perbedaan tersebut tentunya dipengaruhi oleh keadaan sosiokultural dan budaya.
Menurut Helson (1993 dalam Papalia, 2003) menyatakan bahwa menurut pandangan Jung, kualitas tertinggi dari wanita pada usia 50andiasosiasikan dengan otonomi dan keterlibatan dalam hubungan intim (intimate relationship). Menurut Gutmann, peran gender tradisional menekankan pada keamanan dan kesejahteraan perkembangan anak, dimana ibu berperan sebagai pengasuh dan ayah penyedia sumber daya. Ketika masa pengasuhan anak sudah berlalu, yang berlaku bukan lagi sekedar menyeimbangkan peran laki-laki dan perempuan, namun sudah mengarah pada pembalikan peran, atau yang disebut juga dengan gender crossover.
Sex-role ideology
Kepercayaan normatif atau preskriptif mengenai sifat hubungan peran yang tepat antara perempuan dan laki-laki disebut sex-role ideology. Dalam masyarakat tradisional, laki-laki biasanya dipandang lebih dominan dan/atau lebih penting dibandingkan perempuan, sedangkan di masyarakat modern, seseorang melihat pergerakan lebih menuju pada hubungan yang lebih egaliter. Mereka mengharapkan variasi menyeberangi negara dalam kepercayan yang umum maupun tipikal mengenai ketepatan variasi pelaksanaan sosial yang melibatkan perempuan dan laki-laki, seperti tanggung jawab dalam mengurus anak atau bekerja di luar rumah, dievaluasi sepanjang skala modern/tradisional. Tambahannya, sepertinya beralasan untuk mengharapkan bahwa terdapat variasi terukur pada sex-role ideologydiantara banyak individu pada negara tertentu dan variasi ini terkait secara sistematik dengan self-concept dari individu. Sebuah hipotesis prori yang beralasan bahwa semakin maskulin laki-laki dan semakin maskulin perempuan akan memegang kepercayaan secara relatif akan peran sex yang bersifat tradisional, sedangkan orang yang lebihandrogynous, dari kedua sex, secara relatif lebih egaliter.
Self Concept pada Laki-laki dan Perempuan
Berdasarkan stereotip seks ditinjau dari kebudayaan, dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan secara psikologis berbeda dalam beberapa dimensi dan model yang disediakan oleh stereotip tersebut akan mendorong laki-laki dan perempuan untuk menggambarkan diri mereka secara berbeda. Sebuah penelitian menemukan bahwa anak belajar tentang stereotip seks sejak usia awal. Kebanyakan anak usia 5 tahun telah mempelajari beberapa komponen utama dari stereotip seks dan semakin meningkat selama usia awal sekolah hingga usia 11 tahun. Anak tumbuh dalam masyarakat yang percaya bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara psikologis dan hal ini akan mendorong anak untuk mempersepsikan diri mereka dengan cara yang kongruen dengan model gender mereka.
Kebanyakan masyarakat memberikan sosialisasi yang berbeda, anak laki-laki diperlakukan secara berbeda dan didorong untuk terlibat dalam jenis kegiatan tertentu sedangkan anak perempuan didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang berbeda dengan anak laki-laki. Keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan itu dan asosiasi terhadap rewardmemberikan alasan lain bagi perempuan untuk mempersepsikan dirinya berbeda dengan laki-laki dan hal ini menimbulkan harapan yang berbeda terhadap ideal selves laki-laki dan perempuan..
Ada banyak studi yang mempertanyakan tentang perbedaan self conceptantara laki-laki dan perempuan dan diantaranya ditemukan bahwa perbedaan self concept di dalam kedua kelompok gender yaitu antara perempuan dan perempuan atau laki-laki dengan laki biasanya lebih besar daripada rata-rata perbedaan antara kedua kelompok gender yaitu antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan kepribadian antar perempuan dan antar laki-laki lebih besar daripada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Ketimpangan dan Peran Gender di Bidang Politik  Oleh  Wayan Sudarta   Fakultas Pertanian UNUD ABSTRAK

0 komentar:

Posting Komentar